Kontroversi Nilai Religi dalam Film-Film Islami


Film merupakan hasil dari sebuah proses kreatif dan interpretasi pembuatnya terhadap suatu masalah yang ingin dikomunikasikan kepada masyarakat penontonnya. Akan tetapi, bentuk komunikasi film bersifat tidak langsung, sama halnya dengan puisi dan prosa. Karena itu untuk dapat lebih memahami pesan yang ingin disampaikan oleh sebuah film, ada baiknya sebagai penonton, kita tahu bentuk dan konvensi sebuah film. Karena keenganan untuk melewati proses ini dan kecendrungan untuk ikut memberi komentar dapat memunculkan kontroversi yang seharusnya tidak perlu.

Dalam memahami film-film Islami, misalnya, banyak yang tahu dan paham nilai-nilai dalam ajaran Islam, akan tetapi kurang memahami konvensi sebuah film dalam menyampaikan nilai-nilai tersebut, sehingga komentar atau kritik mereka terhadap nilai-nilai agama yang dibahas dalam film-film Islami tersebut cendrung menjadi kurang proporsional. Karena itulah dalam tulisan ini, jauh dari maksud untuk menggurui, penulis bermaksud untuk menawarkan satu sudut pandang lain yang dapat digunakan untuk melengkapi usaha-usaha memahami fenomena dan pesan dari sebuah film, yaitu sudut pandang kritik sastra atau teori kritis.

Melanjutkan uraian pembuka diatas, tentu pertanyaan berikutnya apa saja judul film-film Islami yang beredar di masyarakat yang mengundang kontroversi. Untuk mejawab pertanyaan tersebut, sederhananya kita dapat melihat dan membaca reaksi dan tanggapan masyarakat yang beredar, baik dalam media masa maupun elektronik,  terhadap film-film Islami tersebut. Selama dua tahun terakhir tercatat ada banyak film Islami yang bermunculan di bioskop-bioskop seluruh Indonesia, diantaranya adalah; Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, Do’a Yang Mengancam, Mengaku Rasul, Kun Fayakun, dan masih banyak lagi.

Dari judul-judul tersebut tiga film karya sutradara muda Hanung Bramantyo, Ayat-Ayat Cinta (2008), Do’a Yang Mengancam (2008), Perempuan Berkalung Sorban (2009), dapat dikatakan yang paling banyak menuai kontroversi. Film Ayat-Ayat Cinta misalnya, membawa kontroversi tentang hukum ber-poligami (beristri lebih dari satu) dalam Islam. Banyak yang berpendapat bahwa film ini merupakan alat propaganda untuk mempromosikan poligami seperti yang ditulis Abdul Khalik dalam artikelnya yang berjudul “Women reject polygamy, choosing divorce” (The Jakarta Post, 02/02/2009) “Many high-ranking officials praised the film (Ayat-Ayat Cinta / Verses of Love) while activists accused it of acting as propaganda encouraging polygamy.”. Banyak juga para penggemar novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy ini yang berpendapat bahwa film ini gagal mewakili nilai-nilai yang diusung oleh versi novelnya. Jadi kalau diamati lebih cermat, fenomena yang paling menarik dari kontroversi film ayat-ayat cinta ini bukanlah apa yang dikritik, tetapi lebih kepada siapa para pengritik.

Hal ini berbanding terbalik dengan film terakhirnya yang berjudul Perempuan Berkalung Sorban, juga diadaptasi dari novel yang berjudul sama karya Abidah El Khalieqy. Film ini mendapat tanggapan yang positif dari kalangan aktivis perempuan sebagaimana yang dikutip oleh Endah Asih dalam Pikiran Rakyat Online, Sabtu, 02 Mei 2009,

“Salah satu aktivis perempuan, Mira R.G. Miranatakusumah, juga menyatakan ketertarikannya terhadap film ini. Menurut Mira yang juga merupakan Ketua Yayasan Indonesia Masa Depan, “Perempuan Berkalung Sorban” mampu menyuguhkan potret keresahan dalam lembaga agama dan budaya, yang selama ini menjadi pertanyaan tersendiri, baik dalam logika maupun fakta.”

Karena film ini pula Hanung mendapat kritikan yang paling serius dari kalangan pemimpin Islam sebagaimana yang dikutip oleh Akhmad Muzakki dalam tulisannya di The Jakarta Post online, Minggu, 02/15/2009 10:17 AM,

“Many Muslim scholars and leaders responded positively toward the Islamic movies above. But when the film Perempuan Berkalung Surban (A Woman with a Turban) starring Revalina S. Temat which promoted a critical understanding of Islam was released, there was sharp criticism and staunch resistance from Muslim scholars and leaders such as Ali Mustofa Yakub (the Imam of the great Istiqlal mosque) and Tiffatul Sembiring (the President of the Prosperous Justice Party, PKS).”

Jika pada film Ayat-Ayat Cinta Hanung banyak mendapat komentar positif dan pujian dari para pelajar dan pemimpin Islam, bentuk reaksi mereka kepada film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) justru berupa kecaman dan penolakan. Bahkan, Ali Mustafa Yakub (Imam Mesjid Raya Istiqlal) dan Tiffatul Sembiring (Presiden PKS) secara langsung mengajak masyarakat untuk mem-boycot film ini. Karena film ini menceritakan perlawanan seorang perempuan terhadap bobroknya pemahanan dan praktek agama pada suatu pesantren di desa, khususnya dalam mengatur hungungan laki-laki dan perempuan, film ini dituduh memfitnah Islam dan pesantren.

Lagi-lagi jika diamati secara seksama, kontroversi ini lebih disebabkan oleh siapa yang mengkritiknya, bukan karena apa yang dikritiknya. Sementara kontroversinya berkembang terus, filmnya sendiri justru jadi tersingkirkan dari pembahasan, karena tuntutan jatuh pada sang sutradara bukan penulis novelnya.

Dari tiga judul  tersebut diatas, film Doa Yang Mengancam yang justru mewakili aspirasi masyarakat miskin dan menggugat janji Tuhan kepada orang yang telah berdo’a dan berikhtiar dengan rajin seperti tidak dapat angin untuk terangkat menjadi kontroversi besar. Ini mungkin karena yang dikritik adalah Tuhan dan kritiknya hanya mewakili penderitaan rakyat kecil, orang-orang yang tadi tersebut sangat kritis meresa tidak perlu untuk ikut campur. Sekali lagi, ini baru sebatas kemungkinan, karena sampai sekarang film yang di release sebelum Perempuan Berkalung Sorban ini, tidak banyak dibicarakan di media masa dan elektronik

donny’s Site
Categories: ANEKA INFORMASI, PESAN-PESAN DUNIA | Tags: , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Kontroversi Nilai Religi dalam Film-Film Islami

  1. sedjatee

    yang jelas itu adalah bukan filem yang kreatif..
    novelnya juga demikian… sekadar menuruti selera pop pembacanya….
    sori ya.. genre novelnya tidak pas dengan saya…
    lebih terhormat membaca novel cerdas semisal karya-karya Pramoedya ananta, Umar Khayam, atau penulis muda seperti Andrea Hirata..
    salam kenal bung Admin, tulisan yang tajam…
    semoga pembaca novel dan penonton sinema kita semakin cerdas setelah membaca tulisan ini… sukses selalu Bung..

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: